Pages

Tag Cloud

dede. Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 02 Juni 2013

Kebenaran, fakta, dan kepercayaan


ini merupakan tugas filsafat ilmu
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Filsafat dan ilmu pada dasarnya adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kehadiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Filsafat sebagai induk dari segala ilmu membangun kerangka berpikir. Menurut  Ismaun (2001) mengemukan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofi dalam memahami berbagai konsep dan teori sesuatu displin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah.
Hal-hal yang dipelejari dalam filsafat ilmu yaitu pertama, ontology ilmu meliputi hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana. Kedua, epistemology ilmu meliputi sumber ilmu, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai (ilmiah). Ketiga, aksiologi ilmu menliputi nilai-nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik matematis atau fisik/material. Adapun hal yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah mengenai kebenaran, fakta, dan kepercayaan
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu sebagai berikut:
1.      Bagaimana dimaksud dengan kebenaran?
2.      Bagaimana dimaksud dengan fakta?
3.      Bagaimana dimaksud dengan kepercayaan?

C.    Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas, tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu sebagai berikut.
1.      Mendeskripsikan tentang kebenaran fakta.
2.      Mendeskripsikan tentang fakta.
3.      Mendeskripsikan kepercayaan.
















BAB  II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kebenaran
Kebenaran adalah suatu nilai utama di dalam kehidupan manusia, sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia, artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan selalu berusaha memeluk suatu kebenaran (Syam dalam Sofyan, 2010: 425). Sedangkan menurut Russel (dalam Sofyan, 2010: 425) mengatakn bahwa kebenaran adalah suatu sifat kepercayaan dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan antara suatu kepercayaan dan fakta. Menurut Djaelani (dalam Sofyan, 2010: 425) kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan dengan fakta-fakta itu sendiri atau pertimbangan (judgment) dan situasi yang dipertimbangkan itu berusaha melukiskannya.
Kebenaran adalah soal hubungan antara pengetahuan dan apa yang dijadikan objeknya, yaitu apabila terdapat persesuaian dalam hubungan antara objek dan pengetahuan kita tentang objek itu (Gazalba dalam Sofyan, 2010: 426). Menurut adalah kesesuaian dengan fakta. Kebenaran adalah perwujudan dari pemahaman subjek tentang sesuatu, terutama yang bersumber dari sesuatu yang di luar subjek, yaitu fakta, peristiwa, nilai-nilai (norma hukum) yang bersifat umum. Kebenaran menurut Plato dan Aritoteles adalah pernyataan yang dianggapbenar itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya (Jalaludin dalamSofyan, 2010: 426). Kebenaran itu tampaknya bersifat relatif sebab apa yang dianggap benar oleh suatu masyarakat atau bangsa, belum tentu akan dinilai sebagai suatu kebenaran oleh masyarakat atau bangsa lain. Dari beberapa pengertian di atas, penulis memahami bahwa kebenaran adalah sesuatu yang nyata dan sesuai dengan fakta dan bersifat relatif. Artinya apa yang dianggap seseorang benar, belum tentu orang lain menganggap benar.
1.      Sifat Kebenaran
      Menurut Mintaredja (dalamSofyan, 2010: 430) mengatakan kebenaran dapat digunakan sebagai suatu benda yang konkret atau abstrak. Subjek menyatakan suatu preposisi yang diuji memiliki suatu kualitas, sifat, hubungan, dan nilai itu sendiri. Kebenaran dalam filsafat dibedakan menjadi tiga hal.
a.       Kebenaran yang berkaitan dengan kualitas pengetahuan hal ini terbagi atas.
1.      Pengetahuan biasa memiliki inti kebenaran sifatnya subjektif, artinya amat terikat pada subjek yang mengenal. Dengan demikian, pengetahuan tahap pertama ini memiliki sifat selalu benar, sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.
2.      Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang tetap menetapkan objek yang khas atau spesifik dengan menerapkan metodologi yang khas pula. Kebenaran ilmiah bersifat relatif, maksudnya kandungan kebenaran mendapatkan revisi yaitu selalu diperkaya oleh penemuan yang paling mutakhir.
3.      Pengetahuan filsafat, yaitu pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafat yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analitis, kritis, dan spekulatif. Sifat kebenaran dalam pengetahuan filsafat itu absolut.
4.      Kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis. Suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan tertentu, sehingga pernyataan dalam kitab suci agama memiliki kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk memahami.
b.      Kebenaran dikaitkan dengan karakteristik, cara atau alat yang digunakan seseorang membangun pengetahuannya. Implikasi dari pengguna alat untuk memperoleh pengetahuan melalui alat indera tertentu akan mengakibatkan karakteristik yang dikandung oleh pengetahuan memiliki cara tertentu untuk membuktikannya.
c.       Kebenaran yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan. Terjadinya relasi atau hubungan antara subjek dan objek.

2.      Teori-Teori Kebenaran
a.       Teori koherensi
 Teori ini menegaskan bahwa suatu proposisi (pernyataan suatu penegetahuan) diakui benar atau sahih jika proposisi itu memiliki hubungan dengan ide atau gagasan dari proposisi sebelumnya yang juga sahih dan dapat dibuktikan secara logika sesuai dengan keterangan dan ketentuan logika. Teori koherensi adalah kebenaran yang ditegakkan atas dasar hubungan keputusan baru dengan keputusan-keputusan yang telah diketahui dan diakui kebenarannya terlebih dahulu. Matematika dan silogisme adalah contoh teori koherensi. Contoh: 3 + 4= 7; 5 + 2=7;  6 + 1=7. Tiga pernyataan tadi benar dan konsisten, sebab pernyataan dan kesimpulan yang ditariknya adalah konsisten dengan pernyataan dan kesimpulan terdahulu yang dianggap benar.
b.      Teori Korespondensi
Teori ini mengatakan bahwa suatu pengetahuan itu benar, apabila proposisi bersesuaian dengan realitas yang menjadi objek pengetahuan itu dan kepastian inderawi. Dengan demikian, kesahihan pengetahuan itu dapat dibuktikan secara langsung. Suatu pernyataan benar apabila materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkoresponden (berhubungan) dengan objek yang dituju. Ibu kota Indonesia adalah Jakarta. Maka pernyataan itu benar oleh karena pernyataan itu berkorespenden dengan objek aktual yaitu Jakarta memang Ibu Kota Republik Indonesia.
c.       Teori Pragmatis
Menegaskan bahwa pengetahuan itu sahih, jika proposisinya memiliki konsekuensi kegunaan atau benar-benar bermanfaat bagi yang memiliki pengetahuan itu. Aliran pragmatisme menyatakan bahwa nilai akhir dari suatu ide atau kebenaran yang disepakati adalah kegunaannya untuk menyelesaikan masalah-masalah praktis. Teori kesahihan pragmatis adalah teori kesahihan yang termasuk teori tradisional, selain koheren dan korespodensi. Teori berkembang pada abad XIX dan awal abad XX.
Suatu pernyataan benar diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Konsekuensi dari pernyataan tersebut memunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Sekiranya ada orang mengatakan teori X tersebuat dikembangkan teknik Y dalam meningkatkan kemampuan belajar dan ternyata secara aktual bahwa teknik Y dalam meningkatkan kemampuan belajar, maka teori X dianggap benar, sebab teori X ini adalah bersifat fungsional dan memunyai kegunaan. Suatu benar kalau dapat dimanfaatkan secara praktis dan tidak mempermasalahkan hakikatnya.
d.      Teori kesahihan semantik
Teori yang menekankan arti dan makna suatu proposisi. Menurut teori ini arti dan makna sesungguhnya mengacu pada referensi atau realitas dan bisa juga arti definitif dengan menunjuk ciri khas yang ada. Teori kebenaran semantik menyatakan bahwa proposisi itu memunyai nilai kebenaran bila proposisi itu memiliki arti.

e.       Teori kebenaran sintaksis
Proposisi yang mengikuti keteraturan gramatika yang telah diisyaratkan. Suatu adalah benar, bila mengikuti atau mematuhi hal yang diisyaratkan dari proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang diisyaratkan, maka proposisi itu memunyai arti.
f.       Teori kesahihan logika yang berlebihan
Teori ini hendak menunjukkan bahwa proposisi menunjukkan bahwa proposisi logis yang memiliki term berbeda, tetapi berisi informasi sama, dan tidak perlu dibuktikan lagi atau sudah menjadi bentuk logik yang berlebihan. Misal, siklus adalah lingkaran atau lingkaran adalah bulatan dan sebagainya. Proposisi lingkaran bulat tidak perlu dibuktikan lagi karena lingkaran adalah sesuatu yang terdiri dari rangkaian titik tertentu, sehingga berupa garis yang bulat. Teori ini banyak dianut olah kelompok aliran positivism, seperti Ayer, Gallagher.

B.     Kepercayaan
Disamping berdimensi berfikir maka manusia itu berdimensi percaya. Percaya adalah sikap dan sifat, membenarkan sesuatu, atau menganggap sesuatu sebagai benar. Kepastian adalah sikap mental atas dasar keyakinan bahwa ada kebenaran, tetapi kebenaran yang diselidiki sendiri. Adapula kemungkinan bahwa orang memunyai keyakinan akan kebenaran bukan karena penyelidikkan sendiri, melainkan atas pemberitahuan pihak lain. Ahli ilmu falak mengatakan misalnya bahwa pada tanggal tertentu akan ada gerhana bulan. Penulis yakin bahwa pemberitahuan itu benar, jadi setelah  diberitahu itu, penulis tahu akan sesuatu kebenaran. Pengetahuan yang tercapai itu disebut kepercayaan. Kepastian terdapat karena percaya ini tidak perlu kurang pastinya dari kepastian yang diperoleh sendiri. Jadi, kepercayaan itu adalah anggapan atau sikap mental bahwa sesuatu itu benar. Arti lain dari kepercayaan adalah sesuatu yang diakui sebagai benar. Kita tidak bisa membayangkan manusia dapat hidup tanpa kepercayaan apapun baik dalam arti yang pertama maupun dalam arti yang kedua.
Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak selalu benar atau keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran. Jika keyakinan tidak ada keraguan yang akan muncul dan kesalahan akan sering kali menghalangi. Keyakinan sangat penting dalam kehidupan seperti keyakinan dalam memeluk agama. Kepercayaan adalah suatu keadaan psikologis pada saat seseorang menganggap suatu premisi benar. Kita yakin dalam satu hal maka kepercayaan akan muncul. Keyakinan sangan berdampingan dalam hidup. Contoh, pada saat kesulitan menghampiri maka sangat di perlukan sikap keyakinan agar kesulitan yang di alami dapat di lewatkan. Kenyakinan  sangat vital dalam hidup. Tidak  ada salahnya kita gunakan keyakinan kita dengan penuh percaya, mudah-mudahan bisa membantu dalam hidup.
1.      Macam-macam Kepercayaan
a.       Kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari
Kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yang kita akui sebagai ibu kandung kita, sesungguhnya kita terima semata-mata atas dasar kepercayaan karena kita tidak merasa perlu membuktikannya. Kita dapat makan sebagai hal yang dapat kita lakukan sehari-hari, apabila kita senantiasa dikuasai kesangsian atau ketidakpercayaan atas setiap makanan yang kita makan itu. Dihubungkan dengan contoh lain, kita tidak akan pernah naik kendaraan bermotor yang dikemudikan orang lain bila kita tidak memunyai kepercayaan atas kendaraan (mobil, kereta api, kapal laut, pesawat terbang, dan sebagainya) yang kita tumpangi dan bila kita memunyai kepercayaan kepada pengemudinya tanpa kita terlebih dahulu mempelajari dan menyelidiki secara ilmiah segala seluk beluk mesin kendaraan. Tanpa kita terlebih dahulu mengetes dan mengecek kemampuan dan kemahiran pengemudi secara seksama. Walaupun yang kita percayai pada mulanya dengan begitu saja itu mungkin saja kemudian dapat diperkuat dengan bukti-bukti hasil penyelidikan rasional, namun itu masalah kemudian bukan masalah permulaan.
b.      Kepercayaan dalam ilmu pengetahuan
Amidjaja, Rektor ITB pernah mengemukakan bahwa dalam ilmu pengetahuan yang dilandasi dengan kesangsian, namun masalah kepercayaan tidak dapat dikesampingkan. Para pemula dalam disiplin ilmu pengetahuan tertentu pertama-tama menerima saja terlebih dahulu suatu dalil atau aksioma atas dasar kepercayaan. Walaupun dalam perkembangan kemudia melalui proses analisa dan penelitian rasional akhirnya sampai juga pada dalil aksioma yang pada mulanya diterima begitu saja atas dasar kepercayaan itu. Ilmu pengetahuan dalam mengemukakan pendapat bersandar pada ponstulat-ponstulat tertentu atau kebenaran-kebenaran yang sudah diterima dengan begitu sebelum secara mutlak yang diterima begitu saja atas dasar kepercayaan semat-mata. Sekali lagi kita tegaskan bahwa dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan sekalipun yang konon diawali dengan keraguan dan kesangsian itu sendiri.
c.       Kepercayaan dalam filsafat
Seseorang yang terkemukan dari penyangsi modern ialah Descartes (1596-1650) seorang ilmu pasti yang paling ulung pada zamannya yang juga peletak dasar rasionalisme yang sebenarnya di Eropa. menurut aliran rasionalime akal manusia itu memang cukup kuat untuk memecahkan segala soal, cukup kuat untuk mencapai kebenaran yang terakhir setidak-tidaknya cukup kuat untuk mengejarnya atas dasar akal sendiri. Penuh keyakinan aliran rasionalisme percaya dengan maksud percaya adalah esa, akan hal manusia sebagai kunci yang membuka segala rahasia. Hanyalah dapat ditanyakan keyakinan itu berdasarkan atas apa? Pada pikiran hemat kami tidak dapat dihindarkan, keterangan bahwa penelitian akal manusia sebagai dasar atas pangkal filsafat dan ilmu pengetahuan adalah suatu pemilihan yang ada pada tidak akal sifatnya. Rasionalisme memilih akal itu karena kepercayaan terhadap akal. Dalam kepercayan itu tidak dicapai dengan jalan pikiran yang akali melainkan kepercayaan itulah tidak lain daripada keyakinan. Atas dasar rasionalisme memilih akal manusia sebagai titik berangkat atau akal pikiran.
Tiap-tipa filosof membutuhkan suatu pangkal pikiran atau titik berangkat. Ada yang memilih akal sebagai titik berangkat, ada yang memilih arus hidup ada yang memilih eksistensi. Pemilihan itu tergantung daripada keyakinan ahli pikir sendiri. Jadi dalam filsafat sekalipun yang katanya mencari keberanaran secara radikal, integral, universal itu, terbukti bahwa ada unsur atau faktor kepercayaan tersebut menjadi pangkal tolaknya sendiri.
d.      Kepercayaan dalam agama
Manusia memerlukan suatu bentuk kepercayan. Hal itu akan mengahadirkan nilai-nilai guna untuk menopang hidupnya. Sikap kepercayaan atau ragu yang sempurna tidak mungkin dapat terjadi, tetapi selain kepercayaan itu dapat dianut sesuai dengan kebutuhan demikian pula cara kepercayaanpun harus benar pula. Menganut kepercayaan yang salah bukan saja dikehendaki, tetapi bahkan berbahaya. Disebabkan kepercayaan itu diperlukan maka dalam kenyataannya kita temui bentuk-bentuk kepercayaan iu berbeda satu dengan yang lainnya.
Faktor kepercayaan ini mutlak dalam agama. Dalam agama, kepercayaan merupakan suatu unsur yang amat penting  dan dalam hal ini amat masuk akal alaannya kebenaran yang dipercayai oleh kaum yang beragama ini diyakini sebab diberitahukan oleh yang tak dapat berdusta (Tuhan sendiri) atau paling sedikit seorang yang menerima tugas memberitahukan kebenaran ini kepada umat manusia, ia patut dipercaya. Percaya ialah menerima kebenaran demi kewibawaan.

C.    Pengertian Fakta
Fakta adalah sebagai faktor nyata atau suatu realitas yang ada di suatu tempat dan dalam waktu tertentu tentang apa yang kita amati (lihat ,dengar, raba ,cicip dan cium). Realitas yang kita amati itu bisa berupa kejadian, benda simbol sifat dan lain sebagainya. Fakta dapat dipahami dalam tiga bentuk.  Pertama,  fakta yang berupa benda seperti batu, pohon, orang dan sebagainya. Kedua, berupa situasi atau kondisi  seperti panas, kotor, bising dan sebagainya. Ketiga, peristiwa atau kejadian seperti kebakaran, perkelahian dan proses lainnya.
Fakta adalah apa yang membuat pernyataan itu betul atau salah. Fakta menurut Russel (dalam Sofyan, 2010:425) adalah sesuatu yang ada. Fakta berbentuk konkret dapat ditangkap pancaindera, dapat diketahui dan dapat diakui kebenarannya (Gazalba dalam Sofyan, 2010:425). Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya. Ada beberapa pandangan, sebagai berikut.

1.      Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya.

2.      Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai.

3.      Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan

4.      Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiris dengan obyektif.

Di sisi lain, Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah.




BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Kebenaran dapat digunakan sebagai suatu benda yang konkret atau abstrak. Subjek menyatakan suatu preposisi yang diuji memiliki suatu kualitas, sifat, hubungan, dan nilai itu sendiri. Kebenaran adalah suatu nilai utama di dalam kehidupan manusia, sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia, artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan selalu berusaha memeluk suatu kebenaran (Syam dalam Sofyan, 2010: 425). Sedangkan menurut Russel (dalam Sofyan, 2010: 425) mengatakn bahwa kebenaran adalah suatu sifat kepercayaan dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan antara suatu kepercayaan dan fakta.
Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak selalu benar atau keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran.


            











BAB I


PENDAHULUAN


 


A.    Latar Belakang


Filsafat dan ilmu pada dasarnya adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kehadiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Filsafat sebagai induk dari segala ilmu membangun kerangka berpikir. Menurut  Ismaun (2001) mengemukan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofi dalam memahami berbagai konsep dan teori sesuatu displin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah.


Hal-hal yang dipelejari dalam filsafat ilmu yaitu pertama, ontology ilmu meliputi hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana. Kedua, epistemology ilmu meliputi sumber ilmu, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai (ilmiah). Ketiga, aksiologi ilmu menliputi nilai-nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik matematis atau fisik/material. Adapun hal yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah mengenai kebenaran, fakta, dan kepercayaan


B.     Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu sebagai berikut:


1.      Bagaimana dimaksud dengan kebenaran?


2.      Bagaimana dimaksud dengan fakta?


3.      Bagaimana dimaksud dengan kepercayaan?


 


C.    Tujuan


Berdasarkan latar belakang di atas, tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu sebagai berikut.


1.      Mendeskripsikan tentang kebenaran fakta.


2.      Mendeskripsikan tentang fakta.


3.      Mendeskripsikan kepercayaan.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


BAB  II


PEMBAHASAN


A.    Pengertian Kebenaran


Kebenaran adalah suatu nilai utama di dalam kehidupan manusia, sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia, artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan selalu berusaha memeluk suatu kebenaran (Syam dalam Sofyan, 2010: 425). Sedangkan menurut Russel (dalam Sofyan, 2010: 425) mengatakn bahwa kebenaran adalah suatu sifat kepercayaan dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan antara suatu kepercayaan dan fakta. Menurut Djaelani (dalam Sofyan, 2010: 425) kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan dengan fakta-fakta itu sendiri atau pertimbangan (judgment) dan situasi yang dipertimbangkan itu berusaha melukiskannya.


Kebenaran adalah soal hubungan antara pengetahuan dan apa yang dijadikan objeknya, yaitu apabila terdapat persesuaian dalam hubungan antara objek dan pengetahuan kita tentang objek itu (Gazalba dalam Sofyan, 2010: 426). Menurut adalah kesesuaian dengan fakta. Kebenaran adalah perwujudan dari pemahaman subjek tentang sesuatu, terutama yang bersumber dari sesuatu yang di luar subjek, yaitu fakta, peristiwa, nilai-nilai (norma hukum) yang bersifat umum. Kebenaran menurut Plato dan Aritoteles adalah pernyataan yang dianggapbenar itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya (Jalaludin dalamSofyan, 2010: 426). Kebenaran itu tampaknya bersifat relatif sebab apa yang dianggap benar oleh suatu masyarakat atau bangsa, belum tentu akan dinilai sebagai suatu kebenaran oleh masyarakat atau bangsa lain. Dari beberapa pengertian di atas, penulis memahami bahwa kebenaran adalah sesuatu yang nyata dan sesuai dengan fakta dan bersifat relatif. Artinya apa yang dianggap seseorang benar, belum tentu orang lain menganggap benar.


1.      Sifat Kebenaran


      Menurut Mintaredja (dalamSofyan, 2010: 430) mengatakan kebenaran dapat digunakan sebagai suatu benda yang konkret atau abstrak. Subjek menyatakan suatu preposisi yang diuji memiliki suatu kualitas, sifat, hubungan, dan nilai itu sendiri. Kebenaran dalam filsafat dibedakan menjadi tiga hal.


a.       Kebenaran yang berkaitan dengan kualitas pengetahuan hal ini terbagi atas.


1.      Pengetahuan biasa memiliki inti kebenaran sifatnya subjektif, artinya amat terikat pada subjek yang mengenal. Dengan demikian, pengetahuan tahap pertama ini memiliki sifat selalu benar, sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.


2.      Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang tetap menetapkan objek yang khas atau spesifik dengan menerapkan metodologi yang khas pula. Kebenaran ilmiah bersifat relatif, maksudnya kandungan kebenaran mendapatkan revisi yaitu selalu diperkaya oleh penemuan yang paling mutakhir.


3.      Pengetahuan filsafat, yaitu pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafat yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analitis, kritis, dan spekulatif. Sifat kebenaran dalam pengetahuan filsafat itu absolut.


4.      Kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis. Suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan tertentu, sehingga pernyataan dalam kitab suci agama memiliki kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk memahami.


b.      Kebenaran dikaitkan dengan karakteristik, cara atau alat yang digunakan seseorang membangun pengetahuannya. Implikasi dari pengguna alat untuk memperoleh pengetahuan melalui alat indera tertentu akan mengakibatkan karakteristik yang dikandung oleh pengetahuan memiliki cara tertentu untuk membuktikannya.


c.       Kebenaran yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan. Terjadinya relasi atau hubungan antara subjek dan objek.


 


2.      Teori-Teori Kebenaran


a.       Teori koherensi


 Teori ini menegaskan bahwa suatu proposisi (pernyataan suatu penegetahuan) diakui benar atau sahih jika proposisi itu memiliki hubungan dengan ide atau gagasan dari proposisi sebelumnya yang juga sahih dan dapat dibuktikan secara logika sesuai dengan keterangan dan ketentuan logika. Teori koherensi adalah kebenaran yang ditegakkan atas dasar hubungan keputusan baru dengan keputusan-keputusan yang telah diketahui dan diakui kebenarannya terlebih dahulu. Matematika dan silogisme adalah contoh teori koherensi. Contoh: 3 + 4= 7; 5 + 2=7;  6 + 1=7. Tiga pernyataan tadi benar dan konsisten, sebab pernyataan dan kesimpulan yang ditariknya adalah konsisten dengan pernyataan dan kesimpulan terdahulu yang dianggap benar.


b.      Teori Korespondensi


Teori ini mengatakan bahwa suatu pengetahuan itu benar, apabila proposisi bersesuaian dengan realitas yang menjadi objek pengetahuan itu dan kepastian inderawi. Dengan demikian, kesahihan pengetahuan itu dapat dibuktikan secara langsung. Suatu pernyataan benar apabila materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkoresponden (berhubungan) dengan objek yang dituju. Ibu kota Indonesia adalah Jakarta. Maka pernyataan itu benar oleh karena pernyataan itu berkorespenden dengan objek aktual yaitu Jakarta memang Ibu Kota Republik Indonesia.


c.       Teori Pragmatis


Menegaskan bahwa pengetahuan itu sahih, jika proposisinya memiliki konsekuensi kegunaan atau benar-benar bermanfaat bagi yang memiliki pengetahuan itu. Aliran pragmatisme menyatakan bahwa nilai akhir dari suatu ide atau kebenaran yang disepakati adalah kegunaannya untuk menyelesaikan masalah-masalah praktis. Teori kesahihan pragmatis adalah teori kesahihan yang termasuk teori tradisional, selain koheren dan korespodensi. Teori berkembang pada abad XIX dan awal abad XX.


Suatu pernyataan benar diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Konsekuensi dari pernyataan tersebut memunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Sekiranya ada orang mengatakan teori X tersebuat dikembangkan teknik Y dalam meningkatkan kemampuan belajar dan ternyata secara aktual bahwa teknik Y dalam meningkatkan kemampuan belajar, maka teori X dianggap benar, sebab teori X ini adalah bersifat fungsional dan memunyai kegunaan. Suatu benar kalau dapat dimanfaatkan secara praktis dan tidak mempermasalahkan hakikatnya.


d.      Teori kesahihan semantik


Teori yang menekankan arti dan makna suatu proposisi. Menurut teori ini arti dan makna sesungguhnya mengacu pada referensi atau realitas dan bisa juga arti definitif dengan menunjuk ciri khas yang ada. Teori kebenaran semantik menyatakan bahwa proposisi itu memunyai nilai kebenaran bila proposisi itu memiliki arti.


 


e.       Teori kebenaran sintaksis


Proposisi yang mengikuti keteraturan gramatika yang telah diisyaratkan. Suatu adalah benar, bila mengikuti atau mematuhi hal yang diisyaratkan dari proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang diisyaratkan, maka proposisi itu memunyai arti.


f.       Teori kesahihan logika yang berlebihan


Teori ini hendak menunjukkan bahwa proposisi menunjukkan bahwa proposisi logis yang memiliki term berbeda, tetapi berisi informasi sama, dan tidak perlu dibuktikan lagi atau sudah menjadi bentuk logik yang berlebihan. Misal, siklus adalah lingkaran atau lingkaran adalah bulatan dan sebagainya. Proposisi lingkaran bulat tidak perlu dibuktikan lagi karena lingkaran adalah sesuatu yang terdiri dari rangkaian titik tertentu, sehingga berupa garis yang bulat. Teori ini banyak dianut olah kelompok aliran positivism, seperti Ayer, Gallagher.


 


B.     Kepercayaan


Disamping berdimensi berfikir maka manusia itu berdimensi percaya. Percaya adalah sikap dan sifat, membenarkan sesuatu, atau menganggap sesuatu sebagai benar. Kepastian adalah sikap mental atas dasar keyakinan bahwa ada kebenaran, tetapi kebenaran yang diselidiki sendiri. Adapula kemungkinan bahwa orang memunyai keyakinan akan kebenaran bukan karena penyelidikkan sendiri, melainkan atas pemberitahuan pihak lain. Ahli ilmu falak mengatakan misalnya bahwa pada tanggal tertentu akan ada gerhana bulan. Penulis yakin bahwa pemberitahuan itu benar, jadi setelah  diberitahu itu, penulis tahu akan sesuatu kebenaran. Pengetahuan yang tercapai itu disebut kepercayaan. Kepastian terdapat karena percaya ini tidak perlu kurang pastinya dari kepastian yang diperoleh sendiri. Jadi, kepercayaan itu adalah anggapan atau sikap mental bahwa sesuatu itu benar. Arti lain dari kepercayaan adalah sesuatu yang diakui sebagai benar. Kita tidak bisa membayangkan manusia dapat hidup tanpa kepercayaan apapun baik dalam arti yang pertama maupun dalam arti yang kedua.


Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak selalu benar atau keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran. Jika keyakinan tidak ada keraguan yang akan muncul dan kesalahan akan sering kali menghalangi. Keyakinan sangat penting dalam kehidupan seperti keyakinan dalam memeluk agama. Kepercayaan adalah suatu keadaan psikologis pada saat seseorang menganggap suatu premisi benar. Kita yakin dalam satu hal maka kepercayaan akan muncul. Keyakinan sangan berdampingan dalam hidup. Contoh, pada saat kesulitan menghampiri maka sangat di perlukan sikap keyakinan agar kesulitan yang di alami dapat di lewatkan. Kenyakinan  sangat vital dalam hidup. Tidak  ada salahnya kita gunakan keyakinan kita dengan penuh percaya, mudah-mudahan bisa membantu dalam hidup.


1.      Macam-macam Kepercayaan


a.       Kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari


Kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yang kita akui sebagai ibu kandung kita, sesungguhnya kita terima semata-mata atas dasar kepercayaan karena kita tidak merasa perlu membuktikannya. Kita dapat makan sebagai hal yang dapat kita lakukan sehari-hari, apabila kita senantiasa dikuasai kesangsian atau ketidakpercayaan atas setiap makanan yang kita makan itu. Dihubungkan dengan contoh lain, kita tidak akan pernah naik kendaraan bermotor yang dikemudikan orang lain bila kita tidak memunyai kepercayaan atas kendaraan (mobil, kereta api, kapal laut, pesawat terbang, dan sebagainya) yang kita tumpangi dan bila kita memunyai kepercayaan kepada pengemudinya tanpa kita terlebih dahulu mempelajari dan menyelidiki secara ilmiah segala seluk beluk mesin kendaraan. Tanpa kita terlebih dahulu mengetes dan mengecek kemampuan dan kemahiran pengemudi secara seksama. Walaupun yang kita percayai pada mulanya dengan begitu saja itu mungkin saja kemudian dapat diperkuat dengan bukti-bukti hasil penyelidikan rasional, namun itu masalah kemudian bukan masalah permulaan.


b.      Kepercayaan dalam ilmu pengetahuan


Amidjaja, Rektor ITB pernah mengemukakan bahwa dalam ilmu pengetahuan yang dilandasi dengan kesangsian, namun masalah kepercayaan tidak dapat dikesampingkan. Para pemula dalam disiplin ilmu pengetahuan tertentu pertama-tama menerima saja terlebih dahulu suatu dalil atau aksioma atas dasar kepercayaan. Walaupun dalam perkembangan kemudia melalui proses analisa dan penelitian rasional akhirnya sampai juga pada dalil aksioma yang pada mulanya diterima begitu saja atas dasar kepercayaan itu. Ilmu pengetahuan dalam mengemukakan pendapat bersandar pada ponstulat-ponstulat tertentu atau kebenaran-kebenaran yang sudah diterima dengan begitu sebelum secara mutlak yang diterima begitu saja atas dasar kepercayaan semat-mata. Sekali lagi kita tegaskan bahwa dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan sekalipun yang konon diawali dengan keraguan dan kesangsian itu sendiri.


c.       Kepercayaan dalam filsafat


Seseorang yang terkemukan dari penyangsi modern ialah Descartes (1596-1650) seorang ilmu pasti yang paling ulung pada zamannya yang juga peletak dasar rasionalisme yang sebenarnya di Eropa. menurut aliran rasionalime akal manusia itu memang cukup kuat untuk memecahkan segala soal, cukup kuat untuk mencapai kebenaran yang terakhir setidak-tidaknya cukup kuat untuk mengejarnya atas dasar akal sendiri. Penuh keyakinan aliran rasionalisme percaya dengan maksud percaya adalah esa, akan hal manusia sebagai kunci yang membuka segala rahasia. Hanyalah dapat ditanyakan keyakinan itu berdasarkan atas apa? Pada pikiran hemat kami tidak dapat dihindarkan, keterangan bahwa penelitian akal manusia sebagai dasar atas pangkal filsafat dan ilmu pengetahuan adalah suatu pemilihan yang ada pada tidak akal sifatnya. Rasionalisme memilih akal itu karena kepercayaan terhadap akal. Dalam kepercayan itu tidak dicapai dengan jalan pikiran yang akali melainkan kepercayaan itulah tidak lain daripada keyakinan. Atas dasar rasionalisme memilih akal manusia sebagai titik berangkat atau akal pikiran.


Tiap-tipa filosof membutuhkan suatu pangkal pikiran atau titik berangkat. Ada yang memilih akal sebagai titik berangkat, ada yang memilih arus hidup ada yang memilih eksistensi. Pemilihan itu tergantung daripada keyakinan ahli pikir sendiri. Jadi dalam filsafat sekalipun yang katanya mencari keberanaran secara radikal, integral, universal itu, terbukti bahwa ada unsur atau faktor kepercayaan tersebut menjadi pangkal tolaknya sendiri.


d.      Kepercayaan dalam agama


Manusia memerlukan suatu bentuk kepercayan. Hal itu akan mengahadirkan nilai-nilai guna untuk menopang hidupnya. Sikap kepercayaan atau ragu yang sempurna tidak mungkin dapat terjadi, tetapi selain kepercayaan itu dapat dianut sesuai dengan kebutuhan demikian pula cara kepercayaanpun harus benar pula. Menganut kepercayaan yang salah bukan saja dikehendaki, tetapi bahkan berbahaya. Disebabkan kepercayaan itu diperlukan maka dalam kenyataannya kita temui bentuk-bentuk kepercayaan iu berbeda satu dengan yang lainnya.


Faktor kepercayaan ini mutlak dalam agama. Dalam agama, kepercayaan merupakan suatu unsur yang amat penting  dan dalam hal ini amat masuk akal alaannya kebenaran yang dipercayai oleh kaum yang beragama ini diyakini sebab diberitahukan oleh yang tak dapat berdusta (Tuhan sendiri) atau paling sedikit seorang yang menerima tugas memberitahukan kebenaran ini kepada umat manusia, ia patut dipercaya. Percaya ialah menerima kebenaran demi kewibawaan.


 


C.    Pengertian Fakta


Fakta adalah sebagai faktor nyata atau suatu realitas yang ada di suatu tempat dan dalam waktu tertentu tentang apa yang kita amati (lihat ,dengar, raba ,cicip dan cium). Realitas yang kita amati itu bisa berupa kejadian, benda simbol sifat dan lain sebagainya. Fakta dapat dipahami dalam tiga bentuk.  Pertama,  fakta yang berupa benda seperti batu, pohon, orang dan sebagainya. Kedua, berupa situasi atau kondisi  seperti panas, kotor, bising dan sebagainya. Ketiga, peristiwa atau kejadian seperti kebakaran, perkelahian dan proses lainnya.


Fakta adalah apa yang membuat pernyataan itu betul atau salah. Fakta menurut Russel (dalam Sofyan, 2010:425) adalah sesuatu yang ada. Fakta berbentuk konkret dapat ditangkap pancaindera, dapat diketahui dan dapat diakui kebenarannya (Gazalba dalam Sofyan, 2010:425). Fakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang filosofis yang melandasinya. Ada beberapa pandangan, sebagai berikut.


1.      Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya.


2.      Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai.


3.      Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan


4.      Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiris dengan obyektif.


Di sisi lain, Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyek kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu deskripsi ilmiah.


 


 


 


 


BAB III


PENUTUP


A.    Simpulan


Kebenaran dapat digunakan sebagai suatu benda yang konkret atau abstrak. Subjek menyatakan suatu preposisi yang diuji memiliki suatu kualitas, sifat, hubungan, dan nilai itu sendiri. Kebenaran adalah suatu nilai utama di dalam kehidupan manusia, sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia, artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan selalu berusaha memeluk suatu kebenaran (Syam dalam Sofyan, 2010: 425). Sedangkan menurut Russel (dalam Sofyan, 2010: 425) mengatakn bahwa kebenaran adalah suatu sifat kepercayaan dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan antara suatu kepercayaan dan fakta.


Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak selalu benar atau keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran.


 


 


            


 


 


 


 


 


 


 


 


 



separador

2 komentar:

Unknown mengatakan...

bermanfaat

Unknown mengatakan...

Penulis, mohon infonya untuk sumber referensinya yg lengkap.
Trims

Posting Komentar

Categories

Followers